Minggu, 28 Oktober 2012

Dua Pertanyaan Untuk Menambah Ketenangan dan Meningkatkan Kualitas Diri

Ada dua buah trik yang menjadikan diri ini tambah tenang dalam hidup dan sekaligus meningkatkan kualitas diri. Bukan hanya kualitas diri untuk sukses di dunia, Insya Allah sekaligus untuk sukses di akhirat.

Ada dua buah pertanyaan yang harus kita lakukan jika kita menginginkan sebuah ketenangan batin sekaligus kebijaksanaan kita bertambah sehingga kualitas diri kita pun akan meningkat dengan drastis.

Dua pertanyaan ini, sebenarnya sudah banyak yang mengetahuinya, namun masih banyak yang belum bisa benar-benar melakukannya sehingga melewatkan manfaat yang besar.

Dua Pertanyaan Itu Adalah ...

Hidup Adalah Ujian

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS. Al Mulk: 2)

Jika hidup dan mati kita adalah ujian, maka apa pun yang terjadi pada diri kita adalah ujian. Jadi apa pun yang terjadi, kita harus menanyakan pertanyaan ini. Pertanyaan pertama adalah
"Bagaimana sikap yang benar menghadapi ujian ini?"

Apa pun yang terjadi kepada diri kita, itu adalah ujian. Baik itu menyenangkan maupun sangat pahit. Saat kita kaya itu bukan berarti diri kita bebas dari ujian, sikap kita terhadap kekayaan tersebut bisa menentukan kualitas diri kita. Ada orang yang menyikapinya dengan sombong ada juga yang bersyukur.

Jelas akan menghasilkan perbedaan, padahal kondisinya sama, yaitu kaya. Orang yang malah menjadi sombong karena kekayaannya, jelas dia gagal dalam ujian tersebut. Sebaliknya jika dia bersyukur, dia adalah orang yang berhasil dalam ujian kekayaan tersebut.

Ya, kekayaan hanya contoh. Apa pun yang membuat kita senang, pada dasarnya itu adalah ujian bagi kita. Bagaimana sikap yang benar menghadapi ujian itu? Tanyakan semua pertanyaan itu dan kita akan di arahkan pada hal yang benar dan menjadikan diri kita tenang dan kebijakan bertambah.

Saat kita tidak bertanya pertanyaan ini, kita bisa terjebak dengan sikap yang salah. Salah menghadapi kesenangan dan salah dalam menghadapi kesulitan.

Pertanyaan ini adalah pembiasaan pada diri kita, jika kita selalu bertanya ini terhadap apa pun yang terjadi, maka kita akan selalu dan sudah terbiasa melihat apa pun yang terjadi sebagai ujian dan mencari sikap yang benar.

Dari Manakah Kebenaran Itu?

Jangan dipusingkan dengan orang-orang yang berkicau bahwa kebenaran itu relatif. Yang benar dan salah itu jelas. Yang benar adalah dari Allah yang tertuang melalui Al Qur'an dan hadist shahih. Jadi apa pun yang terjadi, kita harus bertanya bagaimana sikap yang benar menurut Al Qur'an dan Hadist.

Saat seseorang mengalami kesulitan atau ketakutan, rasa resah dan gelisah tentu akan menyelimutinya. Namun jika kita bertanya bagaimana sikap yang benar terhadap kesulitan dan ketakutan ini? Maka akal kita mulai bekerja. Hidup tidak lagi dikuasai oleh hawa nafsu, namun akal sudah memegang peranan. Kemudian akan mengarah kepada dalil syar'i sehingga menghasilkan sikap yang benar.

Apa sikap yang benar ketika mendapat rezeki nomplok?

Apa sikap yang benar ketika gagal ujian?

Apa sikap yang benar jika terkena PHK?

Apa sikap yang benar saat proposal kita diterima?

Dan berbagai pertanyaan lainnya yang akan menghidupkan potensi akal dan ruhiah kita.

Pertanyaan Siapa Yang Menemukan Harta Kekayaan Kita

Rasulullah S.A.W. bersabda, "Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Dimana saja ia menemukannya, maka ambillah." (HR.Tirmidzi).

Pertanyaan kedua adalah pertanyaan untuk menemukan hikmah itu. Jadi apa pun yang terjadi pada kita, akan bijak dan menambah kebijaksanaan kita dengan bertanya "apa hikmahnya buat saya?"

Apa pun peristiwa itu, baik yang buruk atau pun yang baik. Baik terjadi kepada diri kita atau pun kepada orang lain. Semua itu ada hikmahnya. Akan selalu ada. Jika kita menganggap tidak ada hikmah atau tidak mendapat hikmah, kita hanya kurang keras dalam berpikir. Berpikirlah lebih tenang, mintalah masukan dari orang lain, Insya Allah hikmah itu akan datang.

Jika kita rajin bertanya tentang hikmah, maka akan lebih banyak hikmah yang kita dapatkan, dan kita pun akan semakin menjadi seorang hakim (orang yang bijaksana)

Kesimpulan

Coba renungkan, hidup akan lebih indah saat kita menyikapi apa pun ujian dengan benar, sekaligus mengambil hikmahnya. Dua pertanyaan ini sebagai latihan dan pembiasaan sampai kita akan ortomatis menyikapi ujian dengan benar dan selalu mengambil hikmah. Dengan kebiasaan ini, ketenangan akan kita dapatkan dan meningkatkan kualitas diri kita.

Baca Selengkapnya..

Allah Tidak Butuh Terhadap Hamba-hamba-Nya

Allah s.w.t. itu Mahakaya, tidak membutuhkan sesuatupun dari hamba-hamba-Nya, karena kebutuhan itu adalah tanda kelemahan, dan tidak ada kelemahan pada Tuhan, Dia adalah Pemilik kekuatan dan kekuasaan, Dia-lah yang berfirman "Hai manusia, kamulah yang berkehendak pada Allah, dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji."  (QS. Fathir: 15)

Ketika manusia melakukan berbagai ibadah dan berjihad, itu tidak lain dikerjakan untuk keperluan dirinya dan untuk kemaslahatannya, dan agar menjadi penyebab keselamatannya pada hari kiamat, dan Allah s.w.t tidak mengambil manfaat dari ibadah dan jihadnya itu, Allah s.w.t berfirman, "Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri, Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. Al-'Ankabut: 6)

Sayid Qhutub r.a. berkata, "Jika Allah telah menetapkan fitnah (cobaan) pada orang-orang yang beriman, dan membebani mereka agar berjihad agar diri mereka bisa tegar menanggung beban penderitaan, maka hal itu tidak lain hanyalah untuk kemaslahatan diri mereka, kesempurnaan mereka, dan untuk menetapkan kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat. Jihad itu demi kemaslahatan jiwa dan hati orang yang berjihad, mengangkat pandangan dan wawasannya, dan mengentaskan dari kekikiran terhadap jiwa dan harta, serta untuk menghimpun berbagai keistimewaan dan kesiapan yang terdapat pada dirinya. Itu semua sebelum dirinya dapat lolos ke dalam golongan orang-orang yang beriman, kontribusi kebaikan bagi mereka, dan teguhnya kebenaran di antara mereka, dominasi kebaikan atas keburukan, dan dominasi kemaslahatan atas kerusakan di dalamnya." (Fi Zhilal al-Qur'an, 5/2722)

Sesungguhnya jiwa yang enggan melaksanakan ibadah, ia akan mengira bahwa dia mengerjakan ibadah karena Allah butuh padanya, ini merupakan angan-angan yang dilontarkan setan di dalam jiwa mereka, dan membuat mereka lupa bahwa yang paling pertama mendapatkan manfaat dari hal itu adalah diri mereka sendiri, seruan yang tinggi ini tidak lain merupakan upaya membangkitkan kekuatan yang tersembunyi di dalam jiwa manusia agar segera bergegas menyelamatkan dirinya, tidak meremehkan perkara yang agung ini dan tidak menyia-nyiakan waktu, karena tidak ada yang menyelamatkan jiwa kecuali jiwa itu sendiri, yaitu dengan perantara amal perbuatan yang dilakukannya agar setelah itu dia berhak terhadap rahmat Allah s.w.t. dan keridhaan-Nya.


Abdul Hamid al-Bilaly

Baca Selengkapnya..

Minggu, 21 Oktober 2012

Cinta

Cinta, termasuk kata yang paling banyak digunakan oleh manusia sekaligus yang paling berbahaya. Sebagaimana ia merupakan kata yang suci, banyak orang yang salah dalam mempergunakan dan memahaminya, dan yang paling banyak di akses adalah yang disajikan oleh Barat, yang telah melakukan kesalahan dalam penggunaan dan memahami kata yang agung ini.

Sesungguhnya ketika Barat menggunakan kata ini, dia sering mengkaitkannya dengan hubungan nista sebelum pernikahan, atau yang berakhir dengan pernikahan, atau dengan hubungan antara lelaki dan perempuan tanpa ada ikatan hukum. Dan kata "Bermain Cinta" bagi mereka berarti perbuatan keji atau zina bagi orang-orang yang belum menikah, atau maksudnya berhubungan badan dan berbagai permulaannya bagi orang-orang yang telah menikah, dan orang Barat sangat tidak suka bila anda mengatakan kepadanya, saya cinta padamu (I Love You) karena dia tidak akan mendengar kata-kata ini kecuali dari kekasih atau dari istrinya saja.

Demikian mereka mengaitkan kata yang agung ini dan penggunaannya dengan syahwat dan hasrat yang kuat untuk melakukan hubungan intim, hingga kata ini menjadi tidak lazim bagi orang-orang yang lurus budi pekertinya, lantaran dikaitkan dengan gambaran-gambaran perbuatan keji, vulgar dan kerusakan lewat sarana informasi yang menyiarkan kepada masyarakat puluhan ribu sinetron dan film, para penyanyi dan adegan-adegan sandiwara yang terfokus pada cinta menurut pemahaman ala Barat.

Sesungguhnya cinta bagi kita jauh lebih tinggi maknanya dari semua itu, sesungguhnya cinta itulah yang memasukkan manusia kedalam surga atau bahkan memasukkannya kedalam neraka. Jenis cinta yang paling tertinggi adalah cinta kepada Allah s.w.t. dan kecintaan kepada-Nya merupakan salah satu pokok keimanan, maka tidak mungkin seseorang itu menjadi orang yang beriman tanpa memiliki rasa cinta kepada-Nya, dan juga tidak dikatakan beriman jika dia masih menyekutukan dalam mencintai-Nya dengan lain-Nya.

Dari kecintaan kepada Allah itu lantas bercabanglah cinta yang paling mulia yang diketahui oleh manusia:

Cinta kepada kedua orangtua, karena Allah memerintahkan supaya mencintai kedua orangtua dan Dia mendampingkan perintah ini dengan beribadah kepada-Nya, kecintaan ini juga berkaitan erat dengan Allah s.w.t., dimana bahwasanya cinta ini akan berakhir ketika kedua orangtua itu berpaling dari jalan Allah, dan mengikuti jalan setan, itu merupakan dasar utama dalam menaruh ketaatan, loyalitas, dan dasar penentangan, sesuai dengan Firman Allah s.w.t., "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (QS. Al-Mujadilah:22)

Kecintaan orangtua kepada anak-anaknya,
demikian cinta ini berkait erat dengan Allah s.w.t., dan diantara tanda keimanan adalah, kecintaan ini akan berakhir jika anak-anak itu telah tersesat dari jalan kebenaran. Sebagaimana Allah telah memahamkan kita terhadap kaidah ini, yaitu kaidah wala' (loyalitas) dan bara' (penentangan), kepada Rasul-Nya, Nuh, ketika perasaan kebapakannya tergerak saat melihat anaknya yang kafir tenggelam, dia lantas berseru, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar." Allah langsung mengembalikannya pada dasar utama, "Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik." (QS. Hud: 46)

Cinta Isteri.
Cinta semacam ini akan berlipat ganda ketika dasarnya dibangun di atas kecintaan kepada Allah, maka cinta ini akan bertambah seiring kedekatan isteri kepada Allah s.w.t. yang semakin bertambah, dan dia pun menjadi perhiasan dunia yang paling indah, sebagaimana yang telah diberitahukan oleh Rasul yang benar dan dibenarkan,

"Dunia itu, seluruhnya, perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah." (HR. Muslim)

Cinta karena Allah, yaitu cinta di antara para hamba-hamba-Nya yang bertakwa lagi shalih tanpa ada hubungan nasab di antara mereka kecuali hanya nasab akidah, jika salah seorang di antara mereka merasakan cinta seperti ini, dia tidak melihat adanya keengganan untuk mengatakan kepada saudaranya "Aku mencintaimu karena Allah." saudaranya itu pun menerima hadiah yang agung ini dan menjawab dengan berkata, "Semoga anda dicintai Allah yang telah menjadikanmu mencintaiku karena Dia." Saudaranya itu tahu bahwasanya dia tidak mencintainya lantaran suatu tujuan duniawi, maka dari itu dia mendoakan semoga Allah s.w.t. mencintainya.[]


Abdul Hamid al-Bilaly

Baca Selengkapnya..

Sabtu, 20 Oktober 2012

Menyiasati diri

Jiwa manusia ini termasuk salah satu ciptaan Allah s.w.t. yang sangat menakjubkan, dia siap sedia untuk berubah-ubah sebagaimana yang disebutkan Allah s.w.t., "Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams:7-8)

Dan sesuai dengan kadar usaha manusia yang dicurahkan, jiwa itu akan terbentuk dengan kecenderungan kepada ketakwaan atau pun kedurhakaan, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9-10)

Permasalahan yang sering timbul pada kebanyakan orang itu adalah, ketidakpahaman mereka kepada karakteristik jiwa yang berubah-ubah serta siap untuk berubah-berubah ini, dari kedurhakaan berubah menjadi ketakwaan dan sebaliknya, di samping itu juga sebagaimana yang disebutkan Allah s.w.t. dalam al-Qur'an al-Karim, bahwasanya jiwa itu memiliki sifat dasar menyuruh pada kejahatan (amarah), "Sesungguhnya nafsu (jiwa) itu menyuruh pada kejahatan." (QS. Yusuf: 53) Kecuali jiwa yang dirahmati tuhanku, pengecualian ini khusus bagi orang-orang yang senantiasa mau mendidik dan mensucikan jiwanya, hingga beralih menjadi jiwa yang tenang (muthmainnah) atau jiwa yang menyesali dirinya sendiri (lawwamah) yang dengannya Allah bersumpah dalam al-Qur'an al-Karim.

Supaya seorang muslim itu berhasil dalam pendidikan jiwa ini, maka di harus mengetahui karakter-karakter utama yang dimiliki oleh jiwa ini, serta jalan-jalan yang mesti dilaluinya agar sampai ke relung jiwa yang terdalam dengan selamat tanpa ada kendala yang berarti, di antara berbagai karakter dan tabiatnya itu yang paling utama adalah:

1. Jiwa itu, sebagaimana yang telah kami sebutkan, siap untuk berubah-ubah, dari baik menjadi buruk dan sebaliknya, dan ini tergantung pada seberapa jauh usaha manusia dalam mendidik dan atau menyesatkannya.

2. Jiwa itu mirip dengan otot dari segi pertumbuhan dan perkembangannya, otot yang diciptakan Allah s.w.t didalam badan seseorang itu akan mengeras, kencang dan kuat ketika orang tersebut mulai mengeluarkan tenaga manusiawi yang disebut dengan permainan olah raga, dan bahwasanya jika dia memforsir dirinya dengan berbagai permainan ini sejak permulaan tanpa adanya tahapan-tahapan, maka hal itu akan bisa berakibat menimbulkan berbagai penolakan yang pada gilirannya dia tidak bisa bermain lagi selama hidupnya, atau barangkali hal itu akan menimbulkan cedera pada dirinya untuk selamanya atau pun sementara.

3. Bahwasanya jiwa ini juga seperti halnya otot dari segi pertumbuhan secara bertahap, dia tumbuh sedikit demi sedikit hingga menjadi keras dan kuat, maka, orang-orang yang membawa beban-beban berat dan besi, badan mereka tidak akan menjadi kuat dengan kemampuan ototnya seperti ini melainkan setelah usaha keras selama bertahun-tahun dan bukan dengan latihan sekali atau dua kali saja, tapi pertumbuhannya melalui tahapan-tahapan.

4. Untuk menjaga perkembangan otot ini, harus ada latihan secara berkesinambungan, jika terputus otot-otot ini akan akan berubah menjadi lemak dan pemekaran pada daging, dan jasmani yang indah itu berubah menjadi buruk.

5. Demikian juga para ahli olah raga menyarankan  agar seseorang itu memulai latihan-latihan yang mudah, hingga dia menekuninya kemudian beralih ke latihan yang sulit.

Dari semua hal ini kita bisa menggambarkan rencana amal perbuatan untuk mendidik jiwa, agar kita dapat menembus relung jiwa yang paling dalam dengan rahmat dan karunia Allah, dan di dalamnya kita dapat sampai pada puncaknya dengan jalan yang paling mudah dan paling aman:

Pertama: kita harus memulai dengan ketaatan yang ringan terlebih dahulu, maka, orang yang baru mendapatkan petunjuk atau yang telah terputus beberapa waktu setelah sampai ke puncak, kemudian kembali, maka dia harus memulai dari yang mudah yang sesuai dengan tingkatannya dari segi kemampuan, sehingga tidak membuatnya lari sejak memulai perjalanan. Di antara kesalahan yang fatal adalah mengharuskannya bersemangat yang menggelora sejak awal dengan membebani amalan ketaatan yang sulit dan beribadah yang banyak, akibatnya dia akan lari menghindar secepatnya, karena dia tidak siap untuk mengemban hal itu -sebagaimana halnya otot.

Kedua: bertahap dalam melangkah, misalnya, saya memulai dengan melakukan ibadah seperti mengikuti beberapa langkah berikut ini: Dua rakaat sebelum tidur, di dalamnya membaca surat-surat pendek dalam jangka waktu tertentu, bisa tiga bulan atau lebih, hingga bila telah melihat ada kekuatan yang lebih pada dirinya, beralih ke surat-surat yang panjang.

Empat rakaat sebelum tidur, di dalamnya membaca surat-surat pendek selama kurun waktu tiga bulan atau empat bulan.

Tetap mengerjakan shalat empat rakaat ini sebelum tidur, dan berniat pada suatu malam mengerjakan shalat enam rakaat dalam sepekan. Dan terus begitu selama beberapa waktu.

Jika dia melihat ada kemampuan dan kekuatan pada dirinya, hendaknya menentukan satu malam dalam sepekan untuk mengerjakan shalat dua rakaat sepuluh menit sebelum subuh, dan terus begitu selama beberapa waktu dan bisa lebih lama lagi, hingga dia mendapatkan pada dirinya kekuatan lantas semakin bertambah.

Dan demikian juga langkah-langkah ini senantiasa dilakukan pada ibadah-ibadah lainnya, yang terpenting dalam hal itu adalah bertahap. Di dalam al-Qur'an atau Sunnah tidak ada teks-teks yang menunjukan pada jumlah tertentu pada setiap langkah, itu semata-semata tergantung pada ijtihad yang bersumber dari dasar pijakan yang ditunjukan Nabi s.a.w. kepada kita dalam sebuah pernyataan,

"Sesungguhnya agama ini keras, maka masukilah ia dengan lembut." (HR. Ahmad, hasan)

"Tak seorang pun yang mempersulit diri dalam urusan agama kecuali ia akan terbebani." (HR. Bukhari)

Ketiga: mendidik secara berkesinambungan, kaidahnya, bahwasanya membiarkan jiwa selama beberapa waktu secara terpisah-pisah dan tidak teratur tidak pula berkesinambungan akan membuatnya terjebak pada kebimbangan dan kelemahan, ini persis yang terjadi pada otot saat seorang olahragawan memperlakukannya seperti perlakuan ini.

Rasulullah s.a.w. telah memberi kita secercah cahaya kerasulan yang dapat membantu kita dalam pendidikan ini, yaitu saat beliau berkata,

"Amal perbuatan yang paling dicintai Allah itu adalah yang paling berkesinambungan walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat: bertanya kepada para ahli dan meyakinkan diri pada langkah-langkah yang diambil. Dan karena dalam hal ini banyak orang yang tergelincir bahkan mungkin orang bisa jauh dari keseriusan yang benar, akibatnya menempuh jalan yang tidak benar lantas dilanda kebingungan, dan setelah itu sulitlah baginya untuk kembali lagi, maka harus bertanya kepada orang-orang yang ahli dalam bidang ini, mereka yang berjalan sesuai dengan petunjuk Nabi s.a.w., jauh dari berbagai hal yang diada-adakan pada agama ini agar mereka dapat memberinya petunjuk ke jalan yang benar, dan untuk memperbaiki perjalananya jika dia telah menyimpang dari sunnah, ini persis seperti orang yang ingin membentuk serta mengembangkan ototnya, dia bertanya kepada orang-orang yang ahli olah raga tentang langkah-langkah yang benar berkait dengan hal itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak baik akibatnya.

Semua ini tidak ada yang dapat memahaminya dengan benar kecuali orang yang telah mengenal tabiat jiwa dan juga mengenal iklim tempat jiwa itu dapat hidup berkembang sebagaimana yang telah dipahami oleh Musthafa Shadiq ar-Rafi'i saat berkata, "Seperti pohon, ada iklim yang cocok yang dapat melindunginya...ada iklim yang dapat membuatnya layu..dan ada iklim yang membuatnya punah.. demikian juga yang dilakukan jiwa jika terkondisikan oleh suatu iklim." (Wahyu al-Qalam, 2/201)

Yang kami sebutkan ini adalah bagian kecil dari seni mendidik jiwa yang dilakukan oleh manusia sedikit demi sedikit secara konsisten, sehingga dia dapat mengentaskan jiwanya dari wilayah ajakan pada kejahatan (jiwa amarah) ke wilayah ketenangan (muthma'innah) dan penghayatan diri (lawwamah) yang dapat membuatnya terus menanjak ke derajat para salikin.[]

Abdul Hamid al-Bilaly

Baca Selengkapnya..

Selasa, 16 Oktober 2012

Takut Kepada Setan

Setelah shalat Isya', ada seseorang yang datang kepadaku dengan kedua matanya sembab hampir mengucurkan air mata, dia bertanya kepadaku tentang permasalahannya yang tidak dapat dipecahkannya sendiri, lantas dia berusaha mengajak musyawarah saudara-saudaranya untuk mencari solusinya. Kesimpulan dari permasalahannya itu adalah, bahwasanya jika mendapat kebaikan dia mau memenuhi perintah Allah, dan jika ditimpa keburukan dia akan menjauh dari jalan Allah. Sebab dia menjauh  ketika ditimpa keburukan itu adalah, bahwasanya dia berkata didalam hatinya, apa manfaat ibadah kalau keburukan ini tidak kunjung sirna setiap kali menjalankan perintah Allah, maka dia pun lantas memutuskan untuk meninggalkan ibadah itu.

Saya katakan kepadanya: saudaraku tercinta, kita harus membedakan antara dua hal, pertama; berbagai kewajiban yang diperintahkan Allah s.w.t  kepada kita supaya menyelamatkan diri kita dari api neraka dan meraih kemenangan dengan menggapai keridhaan dan surga-Nya.

Kedua; musibah yang dengannya kita diuji dalam kehidupan.

Adapun yang pertama, maka harus senantiasa dilaksanakan pada setiap kondisi dan setiap waktu, karena yang pertama dan terakhir mengambil manfaat dari pelaksanaan ibadah itu adalah manusia itu sendiri, sebab Allah s.w.t tidak butuh kita, Dia Maha kaya lagi Maha Terpuji. Jika kita lalai dalam melakukan kewajiban-kewajiban ini, maka kita lah yang merugi, sebab melakukan kewajiban itu merupakan salah satu sebab keselamatan dari api neraka, dan hal ini tidak berkaitan dengan musibah, dan seharusnya tidak ada pengaruh negatif terhadap pelaksanaan kewajiban-kewajiban lantaran keburukan yang kita alami didalam hidup kita.

Adapun hal yang kedua adalah bala', Anda harus mengetahui bahwa bala', atau cobaan atau ujian yang ditakdirkan Allah bagi hamba-hamba-Nya itu tidak terbatas pada keburukan saja, tapi ujian itu juga berupa kebaikan, seperti disebutkan dalam firman Allah s.w.t., "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Bahkan sebaliknya, sesungguhnya keberhasilan dalam menghadapi ujian keburukan ini lebih mudah dari pada keberhasilan dalam menghadapi ujian kebaikan, hal itu disebabkan orang yang diberi cobaan dengan kemiskinan misalnya, dia tidak dituntut kecuali bersabar, karena dia tidak memiliki sesuatu untuk berbuat. Tetapi lain lagi dengan cobaan model yang kedua, yaitu orang yang diberi cobaan dengan harta, maka dengan memiliki harta itu dia memiliki kesempatan untuk melakukan kemaksiatan dan enggan memberi, melalaikannya dari kewajiban-kewajiban serta merasa bahwa dia tidak lagi membutuhkan Allah s.w.t. Akibatnya keberhasilan dalam ujian ini menjadi sulit diraih kecuali oleh orang yang menjadikan akhirat sebagai fokus perhatiannya yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan lainnya.

Ia memotong pembicaraan ku dan berkata kepadaku: saya mengetahui itu semua, tetapi setan itu kuat dan kuat sehingga dapat mengalahkan ku dan aku pun menuruti apa yang dia katakan kepadaku, lantas apa yang harus aku lakukan supaya dapat mengalahkannya? Saya berkata kepadanya: saudaraku tercinta.

Ingatlah, bahwasanya masih ada orang yang lebih pahit cobaan nya dari pada anda. Jika anda hidup sendirian sebagai bujangan yang tidak memiliki  pekerjaan sehingga anda tidak memiliki mata pencaharian, dan untuk makanmu, maka ketahuilah bahwa disana ada sejumlah keluarga yang tidak punya mata pencaharian, namun menahan diri untuk tidak meminta-minta kepada orang lain. Bagi orang yang tidak tahu, akan mengira bahwa mereka itu adalah orang-orang kaya karena tidak meminta-minta kepada orang lain, tapi walaupun demikian, ketika berbaur dengan orang lain anda akan heran, bagaimana mereka tertawa, bercanda ria dan giat berdakwah, tetap bisa beribadah, bahkan bertambah dekat kepada Allah. Mungkin anda akan tercengang ketika mengetahui bahwa orang-orang semacam mereka itu tak punya mata pencaharian yang tetap dan pakaiannya pun hanya yang melekat di badan mereka. Rasulullah s.a.w. telah berwasiat agar kita, ketika sedang ditimpa musibah, melihat kepada yang dibawah kita. Itu akan dapat meringankan musibah yang kita derita itu.

Saudaraku tercinta, ketahuilah bahwa Allah s.w.t. menimpakan cobaan kepada seseorang jika Dia melihatnya telah melakukan kemaksiatan, agar dia mau kembali kepada-Nya dan bertambah dekat dengan-Nya hingga Dia mengampuni dosa-dosanya itu. Dan ketahuilah bahwa seseorang itu diberi cobaan sesuai dengan kadar keimanan nya.

Dan jangan lupa bahwa setiap musibah yang menimpa seorang muslim baik itu kegundahan, kegelisahan, bencana, kesedihan penyakit, dan luka, itu semua berpahala, dan hal itu dapat menghapus dosa-dosanya.

Mukanya berbinar-binar sambil mengusap deraian air matanya, dan berkata dengan perasaan penuh kegembiraan: apakah benar itu akan dapat menghapus dosa-dosanya dan berpahala? Lalu saya katakan: ya, sebenarnya urusan seorang muslim itu semuanya baik dan tidak pernah merugi sama sekali, hal itu pun semakin menambah kegembiraannya dan saya berkata kepadanya: saya tutup perkataanku dengan menyampaikan saran, jangan lupa berdoa dan merendahkan diri kepada-Nya di saat melakukan sujud agar Dia memberimu kekuatan iman, kesabaran, dan menolongmu dalam menghadapi setan, benar bahwa setan itu kuat, tetapi Allah lebih kuat, maka, siapa yang berlindung kepada Allah, niscaya Dia menolongnya dalam menghadapi setan.[]

Abdul Hamid al-Bilaly



Baca Selengkapnya..

Minggu, 14 Oktober 2012

Doa Dan Realita

Ketika ada seseorang meminta segelas air dari orang lain, tapi, ketika air itu diberikan kepadanya dia menolak air itu, maka, sebutan apa yang cocok bagi orang seperti itu? Dan ketika jiwa orang itu berulang-ulang meminta air dari orang tersebut, tapi setiap kali dia memberikannya saat itu juga orang itu menolaknya.. apakah dia dinamakan sebagai orang gila, stres, pembohong, suka bermain?

Sangat mungkin sekali orang itu diberi sebutan apa pun di antara sebutan-sebutan tersebut atau yang mirip dengannya.. Jutaan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengerjakan shalat dan mereka semua juga membaca surah al- Fatihah yang merupakan salah satu rukun shalat yang tidak akan sah shalat itu kecuali dengan membaca surah ini. Mereka membacanya dalam sehari sebanyak tujuhbelas kali, diluar sunah-sunah rawatib yang otomatis menambah jumlah bacaannya ini, ini artinya, bahwasanya mereka mengulang-ulang doa setiap kali membaca,
"Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

Pada kenyataannya, sebagian besar mereka tidak mengucapkan demikian,... memang, lisan mereka mengatakan ya Tuhan "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah," maksudnya hanya kepada- Mu kami tunduk, hanya kepada-Mu kami taat, hanya kepada-Mu kami mengikuti dan hanya kepada-Mu kami berserah diri, kami patuh dan tidak takut kecuali hanya kepada-Mu, kami tidak berharap kecuali hanya kepada-Mu, kami tidak tunduk kecuali hanya kepada peraturan-Mu dan kami tidak takut kecuali hanya kepada-Mu.

Tapi realita diri mereka sendiri tidak mengatakan demikian, mereka tunduk kepada manusia, patuh kepada orang-orang yang membuat aturan-aturan manusiawi yang tidak berdasarkan pada peraturan Allah, mereka bergetar saat di teror sesama manusia, dengan memutuskan penghasilan,  atau di teror dengan pembunuhan, mereka menjadikan selain Allah sebagai tuhan-tuhan yang mereka patuhi, mereka merendahkan diri dan takut kepadanya, tunduk kepadanya, dan menyerahkan diri mereka kepadanya. Sesungguhnya hawa nafsu mereka, para pemimpin mereka, syahwat mereka , wanita mereka, harta mereka, pakaian mereka, kendaraan mereka, binatang ternak mereka, kedudukan mereka, dan semua perhiasan yang ada dimuka bumi ini adalah tuhan-tuhan selain Allah, walaupun demikian selama sehari penuh mereka mengatakan lebih dari tujuhbelas kali "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah."

Dan mereka mengatakan, "Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan," maksudnya bahwasanya kami ya Tuhan, jika tertimpa musibah, cobaan, membutuhkan pertolongan, dan saat kami lemah, kami tidak menghadapkan diri kami kepada seorang pun selain Engkau untuk memohon pertolongan dan agar kami selamat dari musibah tersebut. Tetapi realita tidak mengatakan demikian, sesungguhnya jika mereka ditimpa musibah atau kesulitan hidup, mereka menghadapkan diri mereka kepada sesama makhluk sebelum menghadap kepada sang Khaliq (Pencipta), dan mereka meyakini bahwasanya makhluk itu memiliki kemampuan mendatangkan manfaat atau bahaya, mereka sama sekali lalai untuk menghadapkan diri, kembali dan bersimpuh dihadapan Allah, padahal sesungguhnya mereka mengatakan "Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

Yaitu jalan yang dilalui oleh para salafus shalih; para pengikut nabi-nabi, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat. Tapi realita tidak  mengatakan demikian, mereka masih tetap melakukan kemaksiatan, masih melakukan riba, zina, memandang apa-apa yang diharamkan Allah, berbohong, membicarakan keburukan orang lain, mengadu domba, menipu, kedengkian yang memenuhi hati mereka dan lemah semangat, mempertuhankan dunia dan tidak memiliki komitmen, lalu petunjuk yang mana yang mereka kehendaki??

Apakah hal ini berarti bahwa jutaan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia itu berbohong kepada Allah, dan menipu-Nya sebanyak tujuhbelas kali dalam sehari, dan keadaan mereka seperti orang gila yang meminta air dari orang yang memilikinya tetapi ketika diberi dia menolaknya. Apakah itu merupakan kebiasaan yang telah dominan hingga mencabut hubungan antara perkataan dan perbuatan, dan ini merupakan penyakit jiwa yang tidak dikenali  ataukah merupakan kebohongan yang menyelimuti kehidupan kita, sehingga kita tidak bisa membedakan antara dusta kepada manusia dengan dusta kepada Allah, ataukah itu merupakan materialisme yang telah menyelimuti hati hingga menjadi seperti penyakit kronis yang membutakan penglihatan manusia dari pandangan yang hakiki dan dari kecermatan, ataukah itu merupakan kemaksiatan-kemaksiatan yang membuat hati menjadi buta? Ataukah itu merupakan kumpulan dari semua itu? Jika hal ini benar, maka ini benar-benar merupakan  bencana yang melanda umat ini.

Allah s.w.t berfirman, "Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.: (QS. Ash-Shaff: 3) []


Abdul Hamid al-Bilaly


Baca Selengkapnya..

Minggu, 07 Oktober 2012

Cara Membagi Hukuman

Ada-ada saja siasat Abunawas ini untuk lolos dari segala tipu daya lawan serta ujian raja. Sang raja meminta untuk menghadirkan ibu Abunawas di hadapannya meski raja tahu bahwa kalau ibunya Abunawas ini telah meninggal.



Kisahnya, Pada suatu pagi yang cerah, Abunawas datang ke istana karena dipanggil untuk menemani sang raja yang sudah lama kangen akan cerita lucu Abunawas.

Mereka berbincang-bincang dengan riang gembira. Setelah sekian lama berbincang, raja tiba-tiba saja ingin menguji kepandaian Abunawas.
“Wahai Abunawas, besok bawalah ibumu ke istanaku, nanti engkau akan aku beri hadiah seratus dinar,” kata raja harun Ar-Rasyid.


Abunawas kaget sekali mendengar titah rajanya. Bagaimana tidak, raja sudah tahu kalau ibunya telah lama meninggal dunia, bahkan raja ikut melayat ke rumah Abunawas. Namun, karena iming-iming hadiah yang sangat menggiurkan itu, Abunawas bukannya mengelak malah dia menyetujui permintaan raja tersebut.

Sesampainya di rumah, Abunawas sangat sibuk sekali untuk mencari seorang wanita tua yang kemudian nantinya akan dijadikan ibunya dan dibawa ke istana.

Setelah lama mencari, akhirnya orang yang diinginkan akhirnya ketemu juga. Dengan panjang lebar Abunawas menjelaskan maksudnya kepada perempuan itu. Ia pun berjanji akan membagi hadiah yang akan diterimanya dengan adil, separuh-separuh. Tanpa pertimabangan lagi, perempuan itu menyetujui permohonan Abunawas.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Abunawas sudah sampai di istana sambil menggendong seorang perempuan tua.

“Wahai Abunawas, diakah ibumu?” tanya sang raja.
“benar Tuanku, inilah ibuku. beliau sudah tua dan kakinya lemah sehingga hamba harus menggendongnya ke istana,” tutur Abunawas.

“Benarkah engkau ibunya Abunawas? Awas ya kalau bohong, maka akan aku hukum dirimu,” tanya raja kepada perempuan tua itu.

Begitu mendengar ucapan rajanya, perempuan itu ketakutan sekali, sehingga ia membuat pengakuan yang sebenarnya, bahwa semua itu adalah sandiwara Abunawas untuk mendapatkan hadiah dari raja.

Raja Harun tertawa cekikian dan akan menghukum abu nawa 100 kali pukulan sebagai hukumannya. “Karena engkau berjanji kepadaku akan membawa ibumu ke sini, aku pun berjanji akan memberimu hadiah seratus dinar, akan tetapi engkau tidak bisa memenuhi janjimu. Dari itu, engkau harus dihukum dengan100 kali pukulan,” kata raja.

Dalam kondisi terdesak itu, Abunawas dengan susah payah memeras otak agar terhindar dari hukuman. Sejenak kemudian, ia sudah menemukan cara ampuh untuk lepas dari hukuman itu. “Wahai Tuanku, hamba berjanji dengan perempuan tua itu akan membagi hadiah yang akan paduka berikan dengan sama rata.

“Karena sekarang hamba dihukum 100 kali pukulan, biarlah yang 50 pukulan saya terima, sedangkan yang 50 pukulan lagi tolong diberikan kepada perempuan tua itu,” kilah Abunawas.

Dalam hati raja berguman, “Jangankan dipukul 50 kali, dipukul satu kali saja perempuan tua ini tidak akan mampu berdiri.” Akhirnya raja mengambil keputusan bahwa uang yang 50 dinar diberikan kepada perempuan tua itu.

Dalam keadaan tersebut, Abunawas menyela rajanya. “Ampun beribu ampun Paduka, jika ibuku telah mendapat hadiah dari Paduka, tidak adil kiranya kalau anaknya ini dilupakan begitu saja,” protes Abunawas.
:Hmmm….. ¦baiklah, terimalah pula bagianmu ini,” kata raja sambil memberikan uang 50 dinar kepada Abunawas

Baca Selengkapnya..

Sabtu, 06 Oktober 2012

7 Keajaiban Janin

Banyak orang belum tahu bahwa ketika jabang bayi dalam janin berusia lebih dari lima bulan, mereka sebenarnya sudah dapat berinteraksi dengan dunia di luar janin yang maha luas. Mereka dapat mendengar, merasakan, dan belajar. Ibarat seseorang yang berada dalam ruangan amphitheater yang supercanggih, lebih canggih dari kelas mana pun juga di dunia ini. 

Menurut Fred J. Schwartz, MD, ahli anestesi dari Piedmont Hospital in Atlanta, Georgia, selama dalam kandungan, bayi telah mampu melakukan 7 hal yang ajaib. Apakah itu? Ini dia;

1. Kebiasaan Menghisap Jempol
Jangan heran jika bayi Anda gemar menghisap jempol, karena ternyata kebiasaan ini sudah dimulai sejak dalam kandungan. Refleks isap ini membantu bayi saat akan menyusu, maka ibu tidak perlu lagi memaksakan untuk menyodorkan puting. Keahlian mengisap jempol ini sudah mulai sejak minggu ke-19 karena otak bayi telah mencapai jutaan saraf motorik, sehingga mampu membuat gerakan sadar seperti menghisap jempol.

2. Kebiasaan Berenang
Sejak bayi di dalam kandungan ia sudah terbiasa berada di dalam air selama 9 bulan, yaitu cairan ketuban. Bayi sedang senang-senangnya berenang di usia kehamilan 20 minggu. Saat ini bayi sedang membuat gerakan-gerakan aktif yang dapat dirasakan ibu, mungkin karena panjangnya baru separuh dari panjang lahir dan beratnya baru sekitar 340 gram, sehingga ia masih punya banyak ruang untuk berenang.

3. Kebiasaan Cegukan
Saat hamil, terkadang ibu merasakan gerakan continu di satu bagian perutnya. Bisa jadi saat itu janin sedang cegukan. Hal ini biasanya dirasakan sejak kandungan menginjak minggu ke-25. Hal ini menandakan bahwa janin sedang berlatih pernapasan. Saat ini janin menghirup dan mengeluarkan air ketuban, ketika air ketuban yang tertelan terlalu banyak maka ia akan cegukan. Hal ini sesuatu yang wajar.

4. Mendengar
Banyak yang menyarankan ibu hamil sering-sering berkomunikasi dengan janin dalam kandungannya. Hal ini benar, karena meski masih di dalam kandungan, janin sudah dapat mendengar suara ibunya sendiri dan suara orang lain di sekitarnya. Saat melakukan USG 4 dimensi, selain memeriksa kelengkapan organ tubuh, dokter juga akan meminta janin melakukan sesuatu dan melihat respon si janin. Misalnya, ketika janin sedang menunduk, ketika dokter meminta ia menegakkan kepala, ternyata janin bisa mengikuti perintah. Jadi sebaiknya ibu hamil berhati-hati dalam berkata-kata karena janin juga bisa mendengar jika ibunya sedang marah-marah. Hal ini terbukti dengan reaksi perut yang langsung mengencang.

5. Membedakan Terang dan Gelap
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi sejak dalam kandungan 27-28 minggu sudah bisa membuka matanya, sehingga sudah bisa membedakan antara gelap dan terang. Bisa terlihat ketika dokter menempelkan senter di perut, ia bisa melihat cahaya yang masuk melalui dinding rahim. Bahkan janin bisa mengedipkan mata jika menurutnya terlalu silau atau terang.

6. Mengekspresikan Diri
Sejak dalam kandungan janin ternyata sudah bisa mengekspresikan diri sesuai dengan yang sedang dirasakan ibunya. Jika ibu dalam keadaan bahagia, duduk santai sambil mendengarkan musik, maka janin juga akan merasakan kebahagiaan tersebut sehingga ia akan tersenyum. Sebaliknya, jika ibu sedang stres, maka janin akan menyengitkan dahi. Lihat saja pada potret USG 4 dimensi bayi Anda.

7. Belajar Dua Bahasa
Ternyata, bayi di dalam kandungan bisa belajar memahami bahasa yang sering ia dengar, bahkan hingga dua bahasa sekaligus. Dan kemampuan ini terbawa hingga mereka lahir. Dalam sebuah penelitian yang dimuat di Psychological Science, bayi yang terbiasa mendengar dua bahasa selama dalam rahim ibunya kelak akan lebih mudah belajar dua bahasa. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian psikolog dari Universitas of British Columbia dan Organization for Economic Cooperation and Development di Perancis.

Baca Selengkapnya..

Jumat, 05 Oktober 2012

Sikap adalah Segalanya

Alkisah, ada seekor anak anjing yang tersasar dan gagal menemukan jalan pulang ke rumah majikannya. Dengan putus asa, anak anjing itu berjalan tak tentu arah, dan kemudian berteduh di sebuah rumah karena hujan turun rintik-rintik. Dengan sedih, anak anjing itu meringkuk di dekat daun pintu depan yang sedikit terbuka, dan berkeluh kesah. Dia berharap segera dapat menemukan jalan pulang, karena dia lapar dan sangat merindukan tempat tidurnya yang nyaman dan hangat.

Saat tengah berkeluh kesah begitu, tanpa sengaja matanya menangkap bayangan anjing lain yang juga sedang meringkuk di dekat daun pintu depan. Dia melompat bangun dengan terkejut, dan melihat anjing yang dilihatnya pun bangkit dari meringkuknya, dan kemudian mereka berdua berdiri berhadap-hadapan sambil saling memandangi. Anjing kecil merasa tak nyaman dengan kejadian ini, dan berusaha mengatakan sesuatu, tapi tak bisa karena lidahnya kelu. Bahkan dia kemudian merasa terkejut dan heran karena anjing yang berdiri di hadapannya ini mirip sekali dengannya, baik dari ukuran tubuh maupun warna bulunya.
Sesaat anjing kecil tak tahu harus berkata atau berbuat apa. Namun karena anjing yang berdiri di hadapannya itu selalu memandanginya, anjing kecil menjadi tak senang dan menyalakinya. Tak diduga, begitu dia menyalaki anjing itu, anjing itupun menyalakinya.


Nyali anjing kecil ciut karena yakin anjing yang berdiri di hadapannya ini tak senang dia memasuki rumahnya. Khawatir akan diserang, anjing kecil menjauhi anjing itu, dan ternyata anjing itupun menjauhinya. Anjing kecil terhenyak, dan menghentikan langkah dengan terheran-heran. Dalam hati dia bertanya-tanya; “Apakah anjing itu juga takut kepadaku?”

Yakin apa yang difikirkannya benar, keberanian anjing kecil tumbuh. Untuk menunjukkan kepada anjing di hadapannya kalau dia bukan penakut, ajing kecil menyalaki anjing itu dengan sangat keras. Namun anjing kecil kembali terhenyak, bahkan nyalinya menciut lagi, karena begitu dia menyalaki anjing di hadapannya itu, anjing itupun menyalakinya. Anjing kecil celingukkan untuk mencari bantuan, namun lagi-lagi dia tersentak karena di kiri kanan anjing yang berdiri di hadapannya, ternyata ada anjing-anjing lain yang ukuran tubuh dan warna bulunya sama dengan anjing itu maupun dengan dirinya. Anjing kecil pun lari terbirit-birit meninggalkan rumah karena takut dikeroyok. Di jalan di depan rumah, dia berpapasan dengan seekor anjing dewasa.

“Hey! Mengapa kamu ketakutan seperti itu?” tegur anjing dewasa.
Anjing kecil memberitahu kalau di rumah tempatnya berteduh terdapat banyak sekali anjing, dan anjing-anjing itu semuanya galak.
“Anjing-anjing itu mirip sekali denganku, baik ukuran tubuh maupun warna bulunya,” imbuh anjing kecil.

Anjing dewasa terheran-heran, dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Dia memberitahu kalau rumah tempat anjing kecil berteduh adalah rumah kosong, karena si empunya rumah telah pindah beberapa bulan lalu, dan rumah itu dalam proses penjualan.
“Kalau begitu anjing-anjing yang di sana semuanya anjing liar, ya? Pantas semuanya galak,” anjing kecil menyimpulkan.
Anjing dewasa menggeleng-gelengkan kepala, dan memberitahu kalau dia telah sangat sering memasuki rumah itu, namun tidak pernah bertemu dengan seekor anjing lain pun di sana.

“Tapi di rumah itu memang ada banyak sekali cermin yang digantungkan di dinding-dindingnya, sehingga siapapun yang mendekat atau berdiri di depan cermin-cermin itu, pasti akan melihat pantulan dirinya. Jadi anjing-anjing yang kamu lihat mirip denganmu itu sebenanya pantulan dirimu sendiri pada cermin itu,” imbuhnya.
“Oya?” anjing kecil tak percaya.

“Cobalah kembali ke sana, dan tersenyumlah di depan cermin-cermin itu. Maka kamu akan menemukan anjing yang mirip denganmu sedang tersenyum kepadamu,” tegas anjing dewasa.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah klasik ini? Intinya adalah, apa yang kita terima selama ini seringkali tergantung pada bagaimana sikap kita terhadap apa yang ada di sekitar kita, termasuk lingkungan. Kita dapat membuat diri kita menjadi A, B, C, dan D, jika kita memang ingin seperti itu. Jika kita ingin berbuat jahat kepada seseorang, maka kita akan berbuat seperti yang kita inginkan. Begitupula sebaliknya.

Pertanyaan terbesarnya sekarang adalah, apa yang Anda inginkan untuk hidup Anda? Kesuksesan yang memberikan kenyamanan hidup, kebahagiaan, dan derajat yang tinggi? Atau sebaliknya? Jika Anda ingin sukses, canangkan hal itu dalam diri Anda, maka diri Anda akan membawa Anda pada tujuan yang ingin dicapai.

Anda mungkin akan berkata; “Saya ingin begini dan begitu, tapi saya punya banyak kendala. Saya tak punya uang untuk kuliah, saya tak punya modal untuk membuka usaha yang saya rencanakan, saya tak tahu bagaimana caranya mencapai apa yang saya inginkan, dan sebagainya”.

Mengapa ini menjadi kendala? Orang bijak mengatakan; “Anda adalah apa yang Anda fikirkan”. Jika Anda merasa bahwa ini sulit dan itu sulit, maka Anda akan merasa sulit. Jika sebaliknya, maka yang Anda rasakan adalah sebaliknya juga. Selalu ada solusi untuk setiap permasalahan. Yang paling utama dan terpenting adalah, tumbuhkan keinginan atau motivasi dalam diri Anda, karena hal ini laksana BBM yang memanaskan dan kemudian menggerakkan roda mesin kendaraan. Jika mesin tidak dipanasi, kendaraan takkan jalan dan stay di satu tempat selamanya. Jika kendaraan telah melaju, Anda tinggal mengendalikan arah dan tujuannya, sambil mencari solusi jika ada kendala menghadang. Ingat pemeo penting ini; “JIka Anda lunak terhadap diri Anda, maka dunia akan keras kepada Anda. Sebaliknya, jika Anda keras kepada diri Anda, maka dunia akan lunak kepada Anda”.

Kata-kata bijak ini menjelaskan kepada Anda; jika Anda terlalu banyak kompromi terhadap diri Anda, sehingga Anda kerap menunda-nunda pekerjaan, malas, dan lebih senang memanjakan diri dengan mengejar kesenangan sesaat sehingga waktu yang berharga terbuang percuma, maka Anda akan mendapatkan kehidupan yang sulit, kehidupan yang membuat Anda menderita dan mungkin juga akan membuat Anda sering menangis. Sebaliknya, jika Anda senantiasa memacu diri agar waktu yang berharga dapat memberikan manfaat pada masa kini maupun masa mendatang, maka kehidupan akan memberi Anda kesenangan, kenyamanan, kebahagiaan, kehormatan, dan sebagainya, karena perjuangan Anda dalam mencapai apa yang Anda inginkan, telah memasukkan Anda dalam jajaran orang sukses di dunia ini.

Ingat juga slogan penting ini; “Hasil akhir yang berkualitas diawali dari implementasi yang berkualitas (Quality Implementation / QI)”. Maka awalilah selalu hari Anda dengan fikiran-fikiran yang berkualitas, fikiran-fikiran yang dapat menumbuhkan semangat dan motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan. Lalu implementasikan pula secara berkulitas. Selamat berjuang. Semoga Anda mendapatkan hasil yang berkualitas. 

Baca Selengkapnya..

Selasa, 02 Oktober 2012

Pesugihan dan Pesta Seks Gunung Kemukus


Beragam cara dilakukan banyak orang untuk menjadi kaya. Sebagian memilih jalan normal dengan bekerja lebih giat dan berusaha lebih keras, sementara sebagian lain memilih mencoba mencari jalan pintas

meskipun tampak tidak masuk akal. Banyak orang beranggapan bahwa dengan pesugihan, kekayaan akan didapat segera tanpa harus bekerja membanting tulang. Salah satu ritual pesugihan yang sangat terkenal adalah ritual pesta seks di Kemukus.

Kemukus adalah salah satu tempat di daerah Jawa Tengah, tepatnya di kota Sragen. Sebagai kawasan gunung, tempat ini tidak dikenal karena panorama alam yang mempesona, tetapi karena reputasi sebagai tempat mencari pesugihan.

Hal yang sangat menarik buat pencari pesugihan adalah ritual yang harus dilakukan di tempat ini. Untuk mendapatkan pesugihan, seseorang harus melakukan pesta seks dengan wanita bukan pasangan resmi mereka selama tujuh kali berturut-turut dengan pasangan yang sama. Pesta seks ini dianggap sebagai syarat untuk mendapatkan pesugihan yang diinginkan.

Salah satu syarat dalam berhubungan seks di tempat ini adalah perbuatan tersebut harus dilakukan di tempat terbuka di wilayah gunung Kemukus tersebut. Sebagai pencari pesugihan membawa pasangan resmi mereka sendiri dan melakukan hubungan badan di tempat tersebut. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki pasangan ataupun pasangan tidak resmi yang sama-sama menginginkan pesugihan.

~ Di gunung Kemukus sendiri tersedia jasa teman tidur.

Banyak PSK yang menawarkan diri untuk menjadi teman tidur sesaat dalam ritual mesum tersebut. Para pekerja komersial ini datang dari berbagai daerah karena magnet gunung Kemukus sebagai tempat mencari penghasilan mudah dan aman.

Tempat ini seolah menjadi surga pecinta prostitusi karena tingkat keamanannnya. Sebagaian orang menganggap berhubungan seks di alam terbuka akan terasa sangat menyenangkan. Hal tersebut menjadi sangat menyenangkan ketika mereka tidak akan mendapati resiko dirazia oleh aparat dan sebagainya. Pihak keamanan setempat akan dengan sigap mengamankan prosesi ritual pengunjung tempat ini, termasuk prosesi seksual tak resminya.

Buat pencari pesugihan, mendatangi gunung ini adalah cara kaya yang mudah, murah, dan menyenangkan. Tak jarang banyak pencari pesugihan yang berulang kali datang ke wilayah ini dengan berbagai alasan. Salah satu alasan adalah mereka belum berhasil berhubungan seks dengan perempuan yang sama sebanyak tujuh kali berturut-turut. Tentu saja, hal ini bisa diartikan sebagai alasan untuk mempermulus keinginan melakukan pesta seksual di areal ini.

Tentu, masih banyak cara kaya yang lebih logis dan tidak melanggar kaidah agama. Lantas, bagaimana bisa pesugihan seksual ini terus berlanjut? Buat pemerintah daerah setempat, wilayah ini memberi kontribusi pemasukan daerah yang cukup besar. Setidaknya, aliran dana sebesar Rp 170 juta per bulan masuk ke kas daerah. Melihat angka yang besar, bukan tidak mungkin jumlah sebenarnya jauh lebih besar dari angka tersebut.
Baca Selengkapnya..

Senin, 01 Oktober 2012

Wanita.. Menangis Adalah Anugerah..

Hai wanita.. pernah kah kalian merasa suatu waktu rasanya ingin terus menangis karena sebuah perasaan yang ga dapat diungkapkan lewat kata-kata dan hanya bisa diungkapkan lewat air mata? aku yakin pernah.. Begitu pula aku.. banyak sekali momen yang aku lewatkan dengan air mata,, ga melulu karena sedih, bahagiapun bisa menangis.
Wanita memang diciptakan dengan semua keunikannya dan kesempurnaannya, tidak seperti laki-laki yang terlihat begitu kuat dan ga gampang meneteskan air mata. Lalu kenapa wanita diciptakan Alloh mudah meneteskan air mata? Hal ini perlu juga dipahami oleh kaum laki-laki loh.. Tangis kami bukan tak ada alasan tapi mungkin hanya kami yang mengerti , kami tak mampu untuk mengungkapkannya dalam sebuah kata ataupun kalimat.

Terkadang banyak anak yang bertanya pada ibunya ketika ibunya menangis: “kenapa ibu menangis?” tanya si anak. ” Sebab ibu adalah perempuan, nak” jawab si ibu. Si anak tetap belum memahami karena dia tak akan paham. Bertanyalah si anak pada ayahnya: ” Kenapa ibu menangis,ayah?” tanya si anak. “Ibumu memang sering menangis tanpa sebab yang jelas, banyak wanita yang sering menangis tanpa alasan” jawab sang ayah.

Si anak terus bertanya-tanya, mengapa perempuan menangis? Hingga pada suatu malam, dia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa perempuan mudah menangis?” Dalam mimpinya dia merasa seolah-olah mendengar jawabannya:

“Saat Ku ciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.

Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

“Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali menerima cerca dari si bayi itu apabila dia telah membesar.

“Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

“Ku berikan kesabaran jiwa untuk merawat keluarganya walau dia sendiri letih, walau sakit, walau penat, tanpa berkeluh kesah.

“Kuberikan wanita perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam apa jua keadaan dan situasi. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada anak- anak yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didakap dengan lembut olehnya.

“Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sukar dan menjadi pelindung baginya.
Sebab bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak..?

 “Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyedarkan bahawa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai isterinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

“Dan akhirnya, Kuberikan wanita air mata, agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kepada wanita, agar dapat dia gunakan bila-bila masa pun dia inginkan. Ini bukan kelemahan bagi wanita, kerana sebenarnya air mata ini adalah “air mata kehidupan.”

Air mata bukanlah satu kelemahan dari seorang wanita, Alloh memberikan air mata pada wanita agar dia lebih sempurna. Maha suci Alloh dengan segala rahmat dan berkah yang diberikan pada kita.

Jadi, para wanita.. kalau ingin menangis.. menangislah..karena itu adalah anugerah,, baik dalam sedih maupun senang.. Alhamdulillah :D

Yusfa Nuristyana

.kompasiana.com/2010/03/21/wanita-menangis-adalah-anugerah/
Baca Selengkapnya..

Coment Here . . . ! ! !

Yanto Biggoss © 2008 Template by:
SkinCorner