Minggu, 21 Oktober 2012

Cinta

Cinta, termasuk kata yang paling banyak digunakan oleh manusia sekaligus yang paling berbahaya. Sebagaimana ia merupakan kata yang suci, banyak orang yang salah dalam mempergunakan dan memahaminya, dan yang paling banyak di akses adalah yang disajikan oleh Barat, yang telah melakukan kesalahan dalam penggunaan dan memahami kata yang agung ini.

Sesungguhnya ketika Barat menggunakan kata ini, dia sering mengkaitkannya dengan hubungan nista sebelum pernikahan, atau yang berakhir dengan pernikahan, atau dengan hubungan antara lelaki dan perempuan tanpa ada ikatan hukum. Dan kata "Bermain Cinta" bagi mereka berarti perbuatan keji atau zina bagi orang-orang yang belum menikah, atau maksudnya berhubungan badan dan berbagai permulaannya bagi orang-orang yang telah menikah, dan orang Barat sangat tidak suka bila anda mengatakan kepadanya, saya cinta padamu (I Love You) karena dia tidak akan mendengar kata-kata ini kecuali dari kekasih atau dari istrinya saja.

Demikian mereka mengaitkan kata yang agung ini dan penggunaannya dengan syahwat dan hasrat yang kuat untuk melakukan hubungan intim, hingga kata ini menjadi tidak lazim bagi orang-orang yang lurus budi pekertinya, lantaran dikaitkan dengan gambaran-gambaran perbuatan keji, vulgar dan kerusakan lewat sarana informasi yang menyiarkan kepada masyarakat puluhan ribu sinetron dan film, para penyanyi dan adegan-adegan sandiwara yang terfokus pada cinta menurut pemahaman ala Barat.

Sesungguhnya cinta bagi kita jauh lebih tinggi maknanya dari semua itu, sesungguhnya cinta itulah yang memasukkan manusia kedalam surga atau bahkan memasukkannya kedalam neraka. Jenis cinta yang paling tertinggi adalah cinta kepada Allah s.w.t. dan kecintaan kepada-Nya merupakan salah satu pokok keimanan, maka tidak mungkin seseorang itu menjadi orang yang beriman tanpa memiliki rasa cinta kepada-Nya, dan juga tidak dikatakan beriman jika dia masih menyekutukan dalam mencintai-Nya dengan lain-Nya.

Dari kecintaan kepada Allah itu lantas bercabanglah cinta yang paling mulia yang diketahui oleh manusia:

Cinta kepada kedua orangtua, karena Allah memerintahkan supaya mencintai kedua orangtua dan Dia mendampingkan perintah ini dengan beribadah kepada-Nya, kecintaan ini juga berkaitan erat dengan Allah s.w.t., dimana bahwasanya cinta ini akan berakhir ketika kedua orangtua itu berpaling dari jalan Allah, dan mengikuti jalan setan, itu merupakan dasar utama dalam menaruh ketaatan, loyalitas, dan dasar penentangan, sesuai dengan Firman Allah s.w.t., "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (QS. Al-Mujadilah:22)

Kecintaan orangtua kepada anak-anaknya,
demikian cinta ini berkait erat dengan Allah s.w.t., dan diantara tanda keimanan adalah, kecintaan ini akan berakhir jika anak-anak itu telah tersesat dari jalan kebenaran. Sebagaimana Allah telah memahamkan kita terhadap kaidah ini, yaitu kaidah wala' (loyalitas) dan bara' (penentangan), kepada Rasul-Nya, Nuh, ketika perasaan kebapakannya tergerak saat melihat anaknya yang kafir tenggelam, dia lantas berseru, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar." Allah langsung mengembalikannya pada dasar utama, "Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik." (QS. Hud: 46)

Cinta Isteri.
Cinta semacam ini akan berlipat ganda ketika dasarnya dibangun di atas kecintaan kepada Allah, maka cinta ini akan bertambah seiring kedekatan isteri kepada Allah s.w.t. yang semakin bertambah, dan dia pun menjadi perhiasan dunia yang paling indah, sebagaimana yang telah diberitahukan oleh Rasul yang benar dan dibenarkan,

"Dunia itu, seluruhnya, perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah." (HR. Muslim)

Cinta karena Allah, yaitu cinta di antara para hamba-hamba-Nya yang bertakwa lagi shalih tanpa ada hubungan nasab di antara mereka kecuali hanya nasab akidah, jika salah seorang di antara mereka merasakan cinta seperti ini, dia tidak melihat adanya keengganan untuk mengatakan kepada saudaranya "Aku mencintaimu karena Allah." saudaranya itu pun menerima hadiah yang agung ini dan menjawab dengan berkata, "Semoga anda dicintai Allah yang telah menjadikanmu mencintaiku karena Dia." Saudaranya itu tahu bahwasanya dia tidak mencintainya lantaran suatu tujuan duniawi, maka dari itu dia mendoakan semoga Allah s.w.t. mencintainya.[]


Abdul Hamid al-Bilaly

0 komentar:

Posting Komentar

Coment Here . . . ! ! !

Yanto Biggoss © 2008 Template by:
SkinCorner